(kisah pertama dari trilogi blacklist graduation)
Pagi yang cerah di hari ke 9 bulan september 2007 mengiringi tawa riang para “mantan maba” yang akan menyandang gelar diploma di wisuda ke 95 ini. Sejak pagi buta para wisudawan ini telah siap di lapangan jurusan dengan setelan busana yang rapi dan elegan. Dinginnya hawa angin pagi itu nampak masih terlalu lemah untuk megusir senyum ceria dari wajah-wajah tak berdosa para wisudawan. Sebanyak total kurang lebih 125 orang yang terdiri dari wisudawan diploma III dan wisudawan sarjana akan bersiap-siap menuju graha ITS untuk menyandang gelar yang mereka perjuangkan sejak awal menjejakkan kaki di jurusan “kawah candaradimuka putra-putri bangsa ini”. Nampak diantara mereka segerombolan makhluk-makhluk angkatan 2004 yang juga ikut merasakan bangganya mengenakan toga kebesaran ITS di wisuda semester ganjil ini. ke..makhluktak berdosa itu diantaranya adalah teguh, jerhi, gangga, firman, citra, dilla, yuni, fenti, fitri, vera, atik, hesti, tarmidjo, mitha, kurnia, putri, hanik, pipit, ika, barsih dan reni Sebelum berangkat menuju graha, ke... manusia-manusia narsis ini nampak berakrab-akrab ria dengan lensa kamera digital serta handycam yang nampak sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari untuk megabadikan momen-momen spesial itu. Tak kalah sibuknya para panitia berkostum batik yang juga tampak ikut larut dalam kegembiraan pagi itu. Yang jelas ikut bergembira adalah pilihan terbaik bagi mereka saat itu ketimbang meratapi kegagalan mereka untuk ikut wisuda kali ini (duh kwaciaan dech..). Pada ajang potret-memotret itu, nampak dua bersaudara kembar (firman bin miau dan rahman bin rachel yang tampak bersemangat dalam beraksi di depan lensa, walhasil wajah kedua insan narsis ini paling banyak menjejali memori tustel-tustel digital hari itu.Tak mau kalah adik-adik maba 07 tampak juga ikut berpose bersama kaka-kakak seniornya (taela...), yang jelas semua maba 07 yang menampakkan batang hidungnya kala itu manut-manut saja diambil gambarnya kala itu (ya iyalah, daripada disuruh push-up coba...).
Setelah puas bernarsis-narsis ria, gerombolan wisudawan tadi diangkut oleh “tank scorpion”, sejenis kendaraan antik yang kata si empunya usianya masih seangkatan ama VW comb buatan Jerman sono. Dengan diiringi dengan berbagai jenis sepeda motor dikanan kirinya, mulai dari motor spesies jadul yang bunyinya gak beda jauh ama Bajaj roda tiga (dah pada tau khan punya siapa...?) sampai motor Jupiter keluaran terbaru punya bang Rahman, nampak sama-sama tidak mau ketinggalan mengiringi para wisudawan ini. Bunyian klakson berbagai macam tipe terdengar saling bersahut-sahutan. Tak ketinggalan juga para adik-adik kelas angkatan 06 alias Kud3ta gank, yang mungkin saat itu lagi kurang kerjaan ikut serta mengiringi. Penampilan iring-iringan yang meriah dan serba rame mirip warga kampung pojok yang mengantarkan tetangganya yang lagi berangkat naik haji itu tentu saja menghebohkan seluruh orang di Garaha ITS setibanya disana (Ah..biasa aja tu..)
Sampai pada akhirnya tibalah manusia-manusia bertoga ini menginjakkan kaki di pelataran Graha. Para wisudawan kita tersebut akhirnya berjejer berbaris rapi ala barisan pramuka di SD inpres, lantas sejurus kemudian barisan mereka tadi selangkah demi selagkah memasuki bangunan gedung utama Graha sepuluh nopember, meninggalkan para panitia berkostum batik serta manusia-manusia lain yang sedari tadi ikut mengirigi mereka.
Sepeninggal para makhluk bertoga tadi, para panita yang tidak ingin “lumutan” menunggu selesainya prosesi wisuda akhirnya meninggalkan graha untuk langsung menuju ke suatu tempat yang mana sudah mereka nanti-nantikan sejak tadi pagi, WARTEG terdekat... . Dengan semangat 45, para panitia yang sudah setengah keroncingan ini menuju warung nasi terdekat di arel sekitar kampus. Kali ini rumah makan beruntung yang menjadi jujukan kami adalah Depot Oasis di area keputih. Depot tersebut kami pilih selain dari rasanya yang katanya sih.. nikmat selain itu alasan yang paling masuk akal tentunya apalagi kalau bukan urusan harga yang relatif terjangkau buat kantong-kantong mahasiswa naas seperti kami. Setibanya di TKP, mahasiwa-mahasiswa kelaparan ini nampak sumringah ketika melihat serangkaian nasi dan aneka lauk-pauk yang tersusun rapi diatas perangkat prasmanan alumunium. Wajah mereka yang sedari tadi agak pucat-pucat mengkilat mendadak merona kembali. Sorot mata mereka yang tadi layu sekarang nampak memancarkan aura-aura kehidupan, persis seperti anak-anak negro kelaparan di angola yang melihat truk-truk pengangkut bahan makanan bantuan. Patrick, sahabat kami yang paling gaul itu tanpa kompromi langsung menyendok lima entong penuh nasi ke dalam piring belingnya, dilanjutkan dengan menyikat sebuah paha ayam semur kecap, sebuah telor dadar, sebuah tempe goreng, tiga sendok tumis kacang panjang, dua buah kerupuk serta beberapa ciduk sup sayuran. Paket jumbo yang lebih cocok untuk porsi gajah balita tersebut masih dilengkapi dengan memesan segelas jus alpukat dingin. Setali tiga uang dengan rendra eh.. patrick maksudku, para anggota Blacklist gank ini nampak sama kalapnya ketika menghadapi “ujian” di meja prasmanan. Rachel si item manis asal buduran tidak kalah ganas dengan mengambil sepotong tongkol goreng, setengah iris telor rebus bumbu bali, tiga sendok tumis kangkung, sebuah tahu goreng, lantas “disempurnakan” dengan tiga sendok acar mentimun. Tidak kalah antusias, ega bin klepon, arek kedung boto yang mempunyai julukan prestisius The kaipang of Love itu juga ikut memanaskan suasana dengan menjejali piring belingnya dengan aneka hidangan dari depot prasmanan ini. Setelah puas memnuhi piringnya, Cowok asli kelahiran kota petis ini sedari tadi curi-curi kesempatan untuk dekat-dekat dengan Lauren, cewek trendy yang sudah sejak sebulan-dua bulan belakangan ini ia incar untuk mengakhiri masa jombolnya. Dengan wajah innocent dia lantas mengikuti sang pujaan hati dari belakang, berharap memperoleh posisi makan yang sedekat mungkin dengannya. Namun sayangnya, rencana itu harus ia urungkan, maklum ”tempat strategis” itu sudah lebih dulu dikuasai oleh Anton, pacar Lauren yang sudah membarenginya sejak tadi pagi. Oooh alangkah malangnya nasibmu sobat....
Sejurus kemudian, tanpa banyak ba-bi-bu lagi segerombolan manusia-manusia itu itu tampak beringas menjejalkan butir demi butir beras matang ke dalam lambungnya. Selesai dengan urusan perut, para perewangan ini lantas sepakat mengadakan acara bebas guna mengisi waktu selesainya prosesi wisuda siang nanti. Kaum cewek sebangsa Apink, Memey, Ari, Rima dkk sepakat ngerumpi di kosan indah, sedangkan Lauren lebih memilih untuk merajut kemesraan dengan bang Anton Simbolon lelaki yang sudah mendampinginya sejak setahun yang lalu. Adapun para kaum bujang memilih meghabiskan sang waktu dengan cangkruk di ruang himpunan sambil mengocok kartu poker, hiburan favorit mereka. Aku sendiri lebih memilih “pelesir” denagn duduk-duduk santai bareng Rahman di pos parkiran menikmati kegiatan adik-adik baru kami yang sedang menjalani masa orientasi di pelataran jurusan. Dan yup, Seperti biasa, sambil ngobrol kesana-kemari, Playboy legendaris jurusan kita ini tak lupa menebarkan aura manis berbau mistisnya di seantero calon-calon bunga kampus perjuangan di siang bolong itu. Akupun turut memanfaatkan momen berharga itu dengan mengamati si maba imut yang sedang kuincar pada semester ganjil kala itu.
Saat yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga, tepat ketika matahari terik menyengat di atas ubun-ubun, prosesi wisuda yang sudah memakan waktu tak kurang dari lima jam itu akhirnya genap sudah. Diiringi dengan alunan lagu Hymne ITS yang membahana di seputaran graha, para mantan mahasiswa yang sekarang telah bergelar Sarjana dan Ahli Madya itu satu-persatu mengkambur keluar gedung kebesaran ITS itu. Diluar nampak para mahasiswa dari berbagai jurusan lengkap dengan atribut kebesaran masing-masing tumplek blek di pelataran graha, siap menyambut sang wisudawan bak menyambut pahlawan pulang dari medan perang. Di sekitar Graha juga tak kalah ramai pedagang kaki lima musiman yang menjajakan aneka dagangan mulai dari aneka makanan mulai dari bakso sampai soto, pedagang bunga mawar, pedagang alat tulis, buku, hingga yang paling banyak berkeliaran adalah fotografer keliling lengkap dengan studio mini dadakannya turut menyemarakkan peristiwa sakral ini. Mahasaiwa-mahasiswa jurusan teknik kimia nampak berdiri berkerumun dengan atribut serba hijau, pun demikian dengan jurusan “negeri jiran” kami, Biologi. Di barisan mahasiswa jurusan biologi yang memang dihuni mayoritas kaum hawa itu sekumpulan mahasiswi cantik ber-atribut serba hijau lengkap dengan bendera kebesaran himpunan Mahasiswa turut memeriahkan susasana siang itu. Taj lupa makhluk-makhluk manis itu juga menenteng beberapa pucuk mawar merah yang sudah dikemas cantik dengan kertas plastik transparan guna menyambut sang wisudawan. Mungkin jika dilihat dari atas, mereka nampak bagai rimbunan dedaunan hijau segar di tengah gurun pasir kampus kaum Adam. Kontras di sebelahnya adalah jurusan Teknik Perkapalan yang siang itu nampak hanya berawak para bujang-bujang lapuk dengtan atribut seadanya menyambut sang wisudawan. Mungkin dikarenakan sang penyambut dan yang disambut adalah sesama laki maka teori efisiensi nampak diterapkan benar pada tema penyambutan mereka kali ini. Tak jauh dari sana tampak penyambutan bernuansa formal dipilih oleh sekumpulan mahasiswa berbalutkan jas almamater biru kebesaran kampus perjuangan ini lengkap dengan berbagai atribut , bendera serta spanduk, mereka adalah saudara kami dari jurusan Teknik elektro. Yang tampak mencolok pada siang itu tentu saja para dedemit jurusan Teknik Mesin. Atribut mereka yang didominasi warna merah menyala nampak gagah dan garang, segarang wajah-wajah para penghuni jurusan mereka yang nampak dilanda syndrom kurang kasih sayang akibat “kelangkaan berkepanjangan” mahasiswa bergender hawa, persis seperti peristiwa kelangkaan minyak tanah yang melanda Republik ini. Tapi tentu saja lelakon sebenarnya pada siang itu adalah sekawanan makhluk-makhluk ndesa beratribut biru gelap. Mereka datang bergerombol dengan berbagai atribut dari spanduk sampai bendera himpunan menunggangi motor tak kalah dengan konvoi Harley Davidson bikers. Di barisan terdepan, Dendi sang ketua rombongan kala itu dengan PD membelah areal jalan Graha dengan “tank scorpionnnya”. Didalam mobil itu bercokol para panitia cewek yang terlihat sumringah karena tak harus berpanas-panas ria di bawah terik sinar matahari. Sementara Rahman, Arif piting, Hendra, Hoho, Arif BKP dan aku sendiri mengikuti persis dari belakang. Tak kalah semarak, para rombongan pawai dadakan dari berbagai jenis mahasiswa statistik tumplek blek di belakang kami. Entah bermaksud tulus ikut membantu menyambut wisudawan atau malah lagi males kuliah lantas ikut bergabung dalam rombongan, semauanya absurd. Yang jelas, aroma kebersamaan antar sesama mahasiswa statistika ITS kental sekali terasa disana.
Tak lama kemudian, para mantan mahasiswa bertoga yang kita tunggu-tunggu itu akhirnya keluar juga. Kami yang sudah menunggui di areal pintu belakang Graha mendadak begitu ramai, mirip suporter bonek meneriaki punggawa-punggawa tim bajul ijo Persebaya di rumpu hijau Gelora Tambaksari. Maka otomatis momen narciscus kembali terulang untuk yang kedua kalinya di siang hari ini. Teguh, Gangga, Jerhi dan A miau alias Firman keempat anggota Laskar Blacklist Crew di wisuda ke-95 kali ini nampak kian sumringah. Mereka berfoto ria dengan denagn para “suporter” yang hadir di Graha. Teguh dengan wajah takzim sibuk bersalam-salaman dengan teman-teman seangkatan yang sebagian nampak gundah karena kehilangan salah satu produsen contekan bermutu saat ujian tiba. Sedangkan Jerhi sibuk mengabadikan momen mahak ini dengan para anggota keluarganya dari kota tahu. Adapun Gangga, The Lone Ranger from Tulungagung juga tidak kalah gembiranya. Kedatangannya yang hanya ditemani sang kakak kandung tidak sedikitpun mengurangi semangatnya untuk merayakan momen sakral bersama kami kawan-kawan seperjuangannya di kampus biru. Terlihat jelas aura kebahagiaan di sorot matanya. Dalam hati ia yakin mendiang ayahandanya di surga pasti tersenyum lebar melihat setangkup toga hitam di kepala anak kandungnya yang ia raih dengan susah payah dari sebuah kampus negeri berakreditasi A. Di sudut Graha yang lain blacklistWags juga tidak kalah seru merayakan saat-saat indah ini. Citra yang saat itu ditemani rombongan sekeluarga lengkap dari Sidoarjo plus sang tunangan tercinta, nampak sangat bahagia. Berkali-kali sesungging senyum manis tak berhenti mekar dari wajah hawa berkacamata minus ini. Fenty kawan kita yang paling bohai itu tampak sibuk melani ajakan fans-fansnya di seantero statistik untuk foto bersama. Di kerumunan manusia-manusia itu juga banyak dijejali para maba yang ngebet untuk foto bersama dengan salah satu bunga desa di angkatan kami itu. Pemandangan itu mirip para movie freaks nekat yang berebutan megerumuni Salma Hayek yang berjalan dia atas karpet merah Academy Award. Aksi nekat itu nampaknya juga dilakukan secara diam-diam oleh kawan kita Arif BKP. Pria bejanggut domba ini diam-diam memisahkan diri anpa sepengetahuan kami. Dengan semangat 45 dia berjalan cepat ke arah sesosok makhluk manis yang sedang sibuk mencari sesuatu di mobilnya. Dengan memanfaatkan momentum tersebut BKP menbuang-buang jauh perasaan grogi plus jaim yang selama ini ia tunjukkan kala bersua sang gadis pujaan. Agaknya ia sadar betul bahwa kali ini, detik ini, saat ini, adalah saat-saat terakhir ia bisa berjumpa dengan mojang bandung idolanya itu. Pada awalnya dia heran melihat Arif BKP yang tiba-tiba datang menghampirinya, tetapi setelah beberapa saat si gadis ini mulai paham. Melihat raut muka memelas Arif BKP, ia seakan tidak tega untuk melukai perasaan laki-laki yang memang ia tahu sudah lama memendam rasa ke dia. Maka sejurus kemudian terjadilah momen mengharukan ini...
sekian
nantikan kekonyolan-kekonyolan selanjutnya di
Wisuda ke-96 . . .
No comments:
Post a Comment